Minggu, 02 April 2017

rangkuman morfologi



RANGKUMAN
“MORFOLOGI”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd

Di susun oleh :
  NAMA     : VANI ANGGRAINI
  NPM         : 1640605040
  LOKAL    : A

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017


A.   Pengertian Morfologi
                    Kata morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani. Morphologie terdiri dari dua kata yaitu, morpheyang berarti bentuk dan logosyang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata.
Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu :
a.       Kata dasar, contohnya sepeda
b.      Kata berimbuhan, contoh berepeda
c.       Kata majemuk, contohnya sapu tangan
d.      Kata ulang, contohnya berbondong-bondong

Pembagaian bentuk kata menurut C.A. Mees yang berkebangsaan Belanda terdiri dari:
a.       Kata benda 
b.      Kat
c.       a kerja
d.      Kata sifat
e.       Kata ganti
f.       Kata bilangan
g.      Kata depan
h.      Kata sandang
i.         Kata Sambung
j.        seruKata keterangan

      Perbedaan golongan arti kata – kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata

B.   Proses Morfologi
                  Proses morfologi ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologi, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan). Disamping tiga proses morfologi tersebut, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disini disebut zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata – kata makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya teramsuk golongan kata verbal yang transitif.

C.   Macam – macam Proses Morfologi
1.      Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
      Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikatmerupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yangdapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas.
    Afiksasi terdiri atas:
         prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-).
         sufiks (–kan, –an, –i),
         infiks (–el-, -em-, -er-),
         konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
         simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
2.      Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
        Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh :      Keras+kepala = keras kepala
                    Kamar+mandi = kamar mandi
                    Mata+pelajaran = mata pelajaran
                    Kumis+kucing = kumis kucing

3.      Pengulangan (Reduplikasi)
        Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
1.      Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek
Contoh : Berkata – kata dari bentuk dasar berkata.
Pada cara ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya stinggi – tingginya ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata keterangan.
2.      Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh : Mepertahan – tahankan
Bentuk dasarnya bukan mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia.
Macam – Macam Pengulangan
1.      Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh 
        bentuk dasar, tanapa perubahan fonem adan tidak
        berkombinasi dengan proses perubahan afiks.,
        misalnya sepeda sepeda – sepeda.
2.      Pengulangan
            sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk  
       dasarnya. misalnya mengambil – ambil.
3.      Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
            Pengulangan yang berkombinasi dengan proses
       pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang
       seluruhnya dan berkombinasi dengan proses
       pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi
       bersama – sama dengan proses pembubuhan afiks dan
       bersama – sama pula mendukung satu fungsi.
4.      Misalnya, kereta – keretaan. Pengulangan Dengan Perubahan Fonem Kata
ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit
            Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya,
        sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu
        dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk 
        dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya
        dengan perubahan fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/,
         dan dari /i/, menjadi /a/.





D.   Pengertian Morfem
                        Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya.morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal, morfem mempunyai makna. Dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata, frase, klausa,kalimat. Dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan
Contoh : 
Dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingangkan dengan kata:
a.       Di ambil - ambil
b.      Di bawa - bawa
c.       Di curi - curi
d.      Di dukung - dukung

  1. Jenis-jenis Morfem
                        Berdasarkan criteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139).
  1. Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
  1. Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
  1. Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya,  morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya
  1. Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata,  misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau.
Sementara itu, wakil ketua DPRD Tarakan, Muddain mengatakan, DPRD tidak mempunyai kewenangan dalam tataran teknis, melainkan akan menerapkan kebijakan dan merekomendasikan hasil langsung diterapkan pada RAT 2017. Ke depan, jika sudah dilaksanakannya RAT, maka perlu ada transsparansi keuangan serta hasil pengembangan usaha. “ke depan, koperasi TKBM wajib mendaftarakan seluruh anggota ke BPJS ketenagakerjaan. Pada RAT nanti”, katanya.
Pada paragraf diatas terdapat beberapa morfem terikat dan morfem bebas diantaranya sebagai berikut :
Morfem terikat
  1. Mengatakan
  2. Mempunyai
  3. Melainkan
  4. Menerapkan
  5. Kebijakan
  6. Merekomendasikan
  7. Diterpkan
  8. Dilaksanakannya
  9. Keuangan
  10. Pengembangan
  11. Kedepan
  12. Mendaftarkan
  13. Ketenagakerjaan
  14. Mudahan
  15. Dijalankan
  16. Katanya

Morfem bebas
1.      Itu
2.      Wakil
3.      Ketua
4.      DPRD
5.      Tarakan
6.      Tidak
7.      Dalam
8.      Dan
9.      Pada
10.  Akan
11.  Hasil
12.  Rapat
13.  Jika
14.  Sudah
15.  Ada
16.  Perlu
17.  Nanti
18.  Usaha
19.  Ini
20.  bisa


                    DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi, Hasan, dkk (peny). 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan (Fanologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI PRESS.
Koran Radar Tarakan 28 Maret 2017

1 komentar: