Minggu, 19 Maret 2017

rangkuman fonologi





RANGKUMAN
“FONOLOGI”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd

Di susun oleh :
  NAMA     : VANI ANGGRAINI
  NPM         : 1640605040
  LOKAL    : A

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017




A.  Pengertian Fonologi
Fonologi berasal dari bahasa Yunani fhone “bunyi” dan logos artinya ilmu, jadi secara bahasa Fonologi berarti ilmu yang mempelajari tentang bunyi/ ucapan. Secara istilah Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, Fonologi merupakan cabang tata bahasa. Fonologi juga disebut tata bunyi. Dalam arti lain Fonologi disebut sebagai bagian tata bahasa yang menganalisis bunyi secara umum. Fonologi dalam tuturan ilmu bahasa dibagi menjadi dua bagian yakni, fonetik dan fonemik.

B.     Ilmu-Ilmu yang terkait dalam Fonologi
Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fenom sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari mengasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia.
Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan maka bunyi yang dihasilkan adalah vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan dari beberapa hal berikut;
a.       Posisi bibir (bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
b.      Tinggi rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi).
c.       Maju mundurnya lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum atau lengkung kaki gigi)
Untuk lebih jelasnya, perhatikan diagram vokal berikut!


Depan
Pusat
Belakang
Atas
I
-
U
Tengah
E
e
O
Bawah
-
a
-

Jika bunyi ujaran, ketika udara keluar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan.
Pembagian fonem konsonsan dalam bahasa Indonesia, misalnya berikut ini.
a.       Konsonan hambat, bersuara, bilabial; b
b.      Konsonan hambat, tak bersuara, bilibial: p
c.       Konsonan hambat, bersuara, bilabial:m, dan seterusnya.
Fonetik artikulatoris  meneliti   alat-alat organik  yang  dipakai  untuk menghasilkan bunyi   bahasa.  Fonetik   organis,   atau   fonetik    artikulatoris,  atau   fonetik   fisiologis mempelajari   bagaimana   mekanisme   alat-alat   bicara  yang  ada  dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa.
Fonetik  akustik  menyelidiki  bunyi  menurut  sifat-sifatnya  sebagai  getaran udara. Fonetik  akustik   menyangkut  bunyi  bahasa  dari   sudut  bunyi  sebagai  getaran  udara,  dari   segi   bunyi   sebagai   gejala fisis.   Bunyi-bunyi   diselidiki   frekuensi  getarannya, amplitudo, intensitas, dan timbrenya oleh alat pembantu seperti oscillograph.
Fonetik    auditoris  mempelajari  bagaimana  mekanisme  telinga  menerima  bunyi bahasa   sebagai   getaran   udara.   Fonetik   jenis  ini   cenderung  dimasukkan ke  dalam neurologi ilmu kedokteran.
Fonemik adalah ilmu bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa sebagai (fonem) pembeda makna. Apabila kita berujar lalu arus ujaran itu kita potong atas bagian-bagiannya, dan bagian-bagian itu dipotong-potong lagi sampai pada unsur-unsurnya yang terkecil maka arus ujaran yang terkecil itu disebut bunyi ujaran. Bunyi ujaran yang dapat membedakan arti ini disebut fonem. Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada tiga puluh dua buah fonem, yang terdiri atas;
a.       Fonem vokal 6 buah;a,i,u,e,o,
b.      Fonem diftong 3 buah, oi,ai,ou
c.       Fonem konsonan 23 buah,
Selain fonem dan fonetik, hal yang perlu dipahami dalam berujar adalah intonasi. Intonasi mengatur tinggi-rendah, keras lunak, cepat lambatnya suara dalam berujar sehingga ujaran dapat dipahami oleh pendengar.
C.    Alat Ucap Bahasa
Alat-alat ucap manusai yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi 3 bagian :
1.      Artikulator, ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat me nyentuh bagian-bagian alat ucap lainnya (titik artikulasi) serta dapat membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak dibagian bawah atau rahang bawah. Alat ucap yang dimaksud artikulator seperti :
a)      Bibir bawah (labium)
b)      Gigi Bawah (dentum)
c)      Ujung Lidah (apeks)
d)     Depan Lidah (front of the tongue)
e)      Tengah Lidah (lamino)
f)       Belakang lidah (dorsum)
g)      Akar lidah
2.      Titik artikulasi, ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan bersifat statis. Alat-alat ini terdapat dibagian atas atau rahang atas. Alat-alat ucap yang dimaksud seperti :
a)      Bibir atas (labium)
b)      Gigi atas (dentum)
c)      Lengkung kaki gigi atas (alveolum)
d)     Langit-langit keras (alatum)
e)      Langi-langit lunak (velum)
f)       Anak tekak (uvula)
3.      Alat-alat lain, yang dimaksud ialah alat-alat bicara selain artikulator dan titik artikulasi yang dapat menunjang terjadinya bunyi bahasa. Alat ucap yang dimaksud seperti :
a)      Hidung (nose)
b)      Rongga Hidung (nasal cavity)
c)      Rongga Mulut (oral cavity)
d)     Pamgkal Kerongkongan (laring)
e)      Katup Jakun (epiglotis)
f)       Pita Suara
g)      Pangkal Tenggorokan (laring)
h)      Batang Tenggorokan (trakea)
i)        Paru-paru
j)        Sekat Rongga dada (diafragma)
k)      Saraf Diafragma
l)        Selaput Rongga Dada (pleural cavity)
m)    Bronchus.

D.    Manfaat Fonologi
Ejaan adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah 2 unsur yaitu, segmental dan suprasugmental, ejaanpun menggambarjkan atau melambangkan kedua unsur bunyi tersebut
Tata cara penulisan bunyi ujar ini biasa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil kajian fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian fonemik terhadap ejaan suatu bahsa disebut ejaan fonemis.

No.
Bunyi Bahasa
Penjelasan
1.
Fonem Vokal
A
merupakan vokal terbuka rendah-lamah tengah-takbundar atau vokal vokal tengah pendek setengah terbuka yang dihasilkan dengan bibir netral
2.

I
merupakan vokal tertutup tinggi-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan hampir menyentuh langit-langit dengan kedua bibir agak terentang ke samping
3.

U
merupakan vokal tertutup belakang-bundar-tinggi-kuat yang dihasilkan dengan meninggikan bagian belakang bagian belakang lidah dengan posisi kedua bibir agak maju ke depan dan membundar.
4.

E
Merupakan vokal agak tertutup sedang-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan daun lidah yang dinaikkan  dan diiringi bentuk bibir yang netral, artinya, tidak terentang dan juga tidak membundar
5.

O
merupakan vokal agak tertutup sedang kuat belakang bundar yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar
6.
Fonem Diftong
Ai
lidah berada pada kedudukan membunyikan vokal hadapan luas dan secara cepat geluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit. Hujung lidah dinaikkan tetapi tidaklah setinggi membunyikan vocal. Hujung lidah terkena pada gigi bawah. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak. Glotis dirapatkan dan pita suara bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana dan bibir dihamparkan.
7.

Oi
lidah, pada mulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal, kemudian digeluncurkan  ke arah membunyikan vokal yang lain lalu menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan diftong oi pula, lidah diletakkan sebagaimana menghasilkan bunyi vokal  belakang separuh sempit , dan dengan cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak.
8.

Au
Bunyi diftong ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya pada posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian belakang lidah ini tidak benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan bahagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas.
9.
Fonem Konsonan
B
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
C
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.
D
Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas, jentikannya diawali oleh
desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.
F
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.

G
Posisi lidah sama dengan membunyikan [K] tetapi desakan udara
mengeluarkan bunyi.
H
Langit-langit bagian yang lunak sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.
J
Gigi saling berdekatan, bibir agak direntangkan, lidah rileks dan ujungnya hampir menyentuh gusi gigi atas.
K
Posisi punggung lidah bagian belakang menempel pada langit-langit bagian belakang, mendapat desakan udara dan melepaskan diri.
L
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.
M
Bibir lemas dan santai, saling menyentuh dengan ringan, mulut sedikit didorong kedepan, tapi tidak ada tekanan.
N
Lidah menyentuh pangkal gigi atas dengan ringan, bibir atas dan sisi rongga bibir atas dan sisi rongga hidung sedikit diangkat, rongga mulut agak dibesarkan.
P
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
Q
Suara badan lidah (dorsal) aspirasi. Lafalkan seperti konsonan ch dalam bahasa Indonesia
R
Ujung lidah digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.
S
Suara lidah pada gigi depan bagian dalam (dental). Ujung lidah menuju gigi atas bagian dalam, lalu lafalkan konsonan s
T
Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.
V
Gigi atas menyentuh sedikit bibir bawah dan bibir atas sedikit dinaikkan.
W
Bibir dbundarkan, belakang lidah dinaikkan kelangit lembut lelangit lembut dinaikkan kebelakang rongga tekak untuk menyekat arus udara dari paru-paru kerongga hidung udara dari paru-paru keluar kerongga mulut pita suara di getarkan dan lidah bergerak dengan pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal tengah (W)
X
Suara badan lidah (dorsal). Lafalkan mirip konsonan s, dalam bahasa Indonesia, namun dilafalkan dengan badan lidah bukan dengan ujung lidah.
Y
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah, seolah hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian atas.
Z
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.
10.
Fonem Kluster
Ng
Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan diatas gigi atas bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan (singing- sangsung).


Sy
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.


Kh
Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut.


Ny
Tengah lidah bersentuhan dengan langit langit kasar.

Daftar pustaka :
Suparlan .2014. Panduan Lengkap EYD . Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Zulkifli, dkk. 2014 . Bahasa Indonesia . Tarakan : Himpunan Dosen Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
https://Mata%20Kuli-ahh/Smester%20II/IKD/Nurfitri%20Ramdhani%20%20Fakta,%20Hipotesis,%20Teori,%20dan%20Hukum%20ilmiah.htm diakses 02 Maret 2017.