RANGKUMAN
“FONOLOGI”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd
Di
susun oleh :
NAMA
: VANI ANGGRAINI
NPM
: 1640605040
LOKAL
: A
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017
A. Pengertian Fonologi
Fonologi berasal dari bahasa
Yunani fhone “bunyi” dan logos artinya ilmu, jadi secara bahasa Fonologi berarti
ilmu yang mempelajari tentang bunyi/ ucapan. Secara istilah Fonologi adalah
ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, Fonologi
merupakan cabang tata bahasa. Fonologi juga disebut tata bunyi. Dalam arti lain
Fonologi disebut
sebagai bagian tata bahasa yang menganalisis bunyi secara umum. Fonologi dalam
tuturan ilmu bahasa dibagi menjadi dua bagian yakni, fonetik dan fonemik.
B.
Ilmu-Ilmu
yang terkait dalam Fonologi
Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi
fenom sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari
cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan
pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang
mempelajari mengasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa
diproduksi oleh alat ucap manusia.
Jika bunyi
ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan maka bunyi yang
dihasilkan adalah vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan dari
beberapa hal berikut;
a. Posisi bibir
(bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
b. Tinggi
rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi).
c. Maju mundurnya
lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum atau lengkung kaki gigi)
Untuk lebih
jelasnya, perhatikan diagram vokal berikut!
|
Depan
|
Pusat
|
Belakang
|
|
|
Atas
|
I
|
-
|
U
|
|
Tengah
|
E
|
e
|
O
|
|
Bawah
|
-
|
a
|
-
|
Jika bunyi ujaran, ketika udara keluar
dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah bunyi konsonan.
Pembagian fonem konsonsan dalam bahasa Indonesia,
misalnya berikut ini.
a. Konsonan
hambat, bersuara, bilabial; b
b. Konsonan
hambat, tak bersuara, bilibial: p
c. Konsonan
hambat, bersuara, bilabial:m, dan seterusnya.
Fonetik artikulatoris meneliti
alat-alat organik yang dipakai
untuk menghasilkan bunyi
bahasa. Fonetik organis,
atau fonetik artikulatoris, atau
fonetik fisiologis
mempelajari bagaimana mekanisme
alat-alat bicara yang
ada dalam tubuh manusia
menghasilkan bunyi bahasa.
Fonetik
akustik menyelidiki bunyi
menurut sifat-sifatnya sebagai
getaran udara. Fonetik
akustik menyangkut bunyi
bahasa dari sudut
bunyi sebagai getaran
udara, dari segi
bunyi sebagai gejala fisis. Bunyi-bunyi
diselidiki frekuensi getarannya, amplitudo, intensitas, dan
timbrenya oleh alat pembantu seperti oscillograph.
Fonetik auditoris mempelajari
bagaimana mekanisme telinga
menerima bunyi bahasa sebagai
getaran udara. Fonetik
jenis ini cenderung
dimasukkan ke dalam neurologi
ilmu kedokteran.
Fonemik adalah ilmu
bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa sebagai (fonem) pembeda makna.
Apabila kita berujar lalu arus ujaran itu kita potong atas bagian-bagiannya,
dan bagian-bagian itu dipotong-potong lagi sampai pada unsur-unsurnya yang
terkecil maka arus ujaran yang terkecil itu disebut bunyi ujaran. Bunyi ujaran yang dapat
membedakan arti ini disebut fonem.
Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada tiga puluh dua buah fonem, yang
terdiri atas;
a. Fonem vokal 6
buah;a,i,u,e,o,∂
b. Fonem diftong 3
buah, oi,ai,ou
c. Fonem konsonan
23 buah,
Selain fonem
dan fonetik, hal yang perlu dipahami dalam berujar adalah intonasi. Intonasi mengatur tinggi-rendah, keras lunak, cepat
lambatnya suara dalam berujar sehingga ujaran dapat dipahami oleh pendengar.
C.
Alat
Ucap Bahasa
Alat-alat
ucap manusai yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi
3 bagian :
1. Artikulator,
ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat me
nyentuh bagian-bagian alat ucap lainnya (titik artikulasi) serta dapat
membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak dibagian
bawah atau rahang bawah. Alat ucap yang dimaksud artikulator seperti :
a) Bibir
bawah (labium)
b) Gigi
Bawah (dentum)
c) Ujung
Lidah (apeks)
d) Depan
Lidah (front of the tongue)
e) Tengah
Lidah (lamino)
f) Belakang
lidah (dorsum)
g) Akar
lidah
2. Titik
artikulasi, ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan
bersifat statis. Alat-alat ini terdapat dibagian atas atau rahang atas.
Alat-alat ucap yang dimaksud seperti :
a) Bibir
atas (labium)
b) Gigi
atas (dentum)
c) Lengkung
kaki gigi atas (alveolum)
d) Langit-langit
keras (alatum)
e) Langi-langit
lunak (velum)
f) Anak
tekak (uvula)
3. Alat-alat
lain, yang dimaksud ialah alat-alat bicara selain artikulator dan titik
artikulasi yang dapat menunjang terjadinya bunyi bahasa. Alat ucap yang
dimaksud seperti :
a) Hidung
(nose)
b) Rongga
Hidung (nasal cavity)
c) Rongga
Mulut (oral cavity)
d) Pamgkal
Kerongkongan (laring)
e) Katup
Jakun (epiglotis)
f) Pita
Suara
g) Pangkal
Tenggorokan (laring)
h) Batang
Tenggorokan (trakea)
i)
Paru-paru
j)
Sekat Rongga dada (diafragma)
k) Saraf
Diafragma
l)
Selaput Rongga Dada (pleural cavity)
m) Bronchus.
D.
Manfaat
Fonologi
Ejaan adalah peraturan penggambaran atau
pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah 2 unsur yaitu,
segmental dan suprasugmental, ejaanpun menggambarjkan atau melambangkan kedua
unsur bunyi tersebut
Tata
cara penulisan
bunyi ujar ini biasa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil kajian
fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian
fonemik terhadap ejaan suatu bahsa disebut ejaan fonemis.
|
No.
|
Bunyi Bahasa
|
Penjelasan
|
|
|
1.
|
Fonem Vokal
|
A
|
merupakan vokal terbuka rendah-lamah
tengah-takbundar atau vokal vokal tengah pendek setengah terbuka yang
dihasilkan dengan bibir netral
|
|
2.
|
|
I
|
merupakan vokal tertutup
tinggi-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan
hampir menyentuh langit-langit dengan kedua bibir agak terentang ke samping
|
|
3.
|
|
U
|
merupakan vokal tertutup
belakang-bundar-tinggi-kuat yang dihasilkan dengan meninggikan bagian
belakang bagian belakang lidah dengan posisi kedua bibir agak maju ke depan
dan membundar.
|
|
4.
|
|
E
|
Merupakan vokal agak tertutup
sedang-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan daun lidah yang
dinaikkan dan diiringi bentuk bibir yang netral, artinya, tidak
terentang dan juga tidak membundar
|
|
5.
|
|
O
|
merupakan vokal agak tertutup sedang
kuat belakang bundar yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar
|
|
6.
|
Fonem Diftong
|
Ai
|
lidah berada
pada kedudukan membunyikan vokal hadapan luas dan secara cepat geluncurkan
lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit. Hujung lidah dinaikkan
tetapi tidaklah setinggi membunyikan vocal. Hujung lidah terkena pada gigi bawah. Lelangit
lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak. Glotis dirapatkan dan pita
suara bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana dan bibir
dihamparkan.
|
|
7.
|
|
Oi
|
lidah, pada mulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal,
kemudian digeluncurkan ke arah
membunyikan vokal yang lain lalu menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk
membunyikan diftong oi pula, lidah diletakkan sebagaimana menghasilkan bunyi
vokal belakang separuh sempit , dan
dengan cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan
sempit. Lelangit
lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak.
|
|
8.
|
|
Au
|
Bunyi diftong ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya
pada posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal
belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian belakang lidah ini tidak
benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya
tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini
bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan
bahagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas.
|
|
9.
|
Fonem Konsonan
|
B
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan
udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
|
|
C
|
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas
menyentuh bagian samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.
|
||
|
D
|
Ujung lidah secara ringan menyantuh
gusi atas, jentikannya diawali oleh
desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan. |
||
|
F
|
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir
bawah.
|
||
|
G
|
Posisi lidah sama dengan membunyikan [K]
tetapi desakan udara
mengeluarkan bunyi. |
||
|
H
|
Langit-langit bagian yang lunak
sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.
|
||
|
J
|
Gigi saling berdekatan, bibir agak
direntangkan, lidah rileks dan ujungnya hampir menyentuh gusi gigi atas.
|
||
|
K
|
Posisi punggung lidah bagian belakang
menempel pada langit-langit bagian belakang, mendapat desakan udara dan
melepaskan diri.
|
||
|
L
|
Lidah melengkung tepat dibagian
belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis
lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.
|
||
|
M
|
Bibir lemas dan santai, saling
menyentuh dengan ringan, mulut sedikit didorong kedepan, tapi tidak ada
tekanan.
|
||
|
N
|
Lidah menyentuh pangkal gigi atas
dengan ringan, bibir atas dan sisi rongga bibir atas dan sisi rongga hidung
sedikit diangkat, rongga mulut agak dibesarkan.
|
||
|
P
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan
udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
|
||
|
Q
|
Suara badan lidah (dorsal) aspirasi.
Lafalkan seperti konsonan ch dalam bahasa Indonesia
|
||
|
R
|
Ujung lidah digetarkan hingga
menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.
|
||
|
S
|
Suara lidah pada gigi depan bagian
dalam (dental). Ujung lidah menuju gigi atas bagian dalam, lalu lafalkan
konsonan s
|
||
|
T
|
Ujung lidah ditempatkan (bukan
diletakkan) menyentuh gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas
dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.
|
||
|
V
|
Gigi atas menyentuh sedikit bibir
bawah dan bibir atas sedikit dinaikkan.
|
||
|
W
|
Bibir dbundarkan, belakang lidah
dinaikkan kelangit lembut lelangit lembut dinaikkan kebelakang rongga tekak
untuk menyekat arus udara dari paru-paru kerongga hidung udara dari paru-paru
keluar kerongga mulut pita suara di getarkan dan lidah bergerak dengan pantas
ke kedudukan untuk membunyikan vokal tengah (W)
|
||
|
X
|
Suara badan lidah (dorsal). Lafalkan
mirip konsonan s, dalam bahasa Indonesia, namun dilafalkan dengan badan lidah
bukan dengan ujung lidah.
|
||
|
Y
|
Dimulai dengan formasi [I]
dan bongkokkan lidah, seolah hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian
atas.
|
||
|
Z
|
Sama seperti membunyikan [S]
namun sedikit lebih berat.
|
||
|
10.
|
Fonem Kluster
|
Ng
|
Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan
diatas gigi atas bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat
dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan
(singing- sangsung).
|
|
|
|
Sy
|
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi
cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan
bibir bawah bergerak ke atas.
|
|
|
|
Kh
|
Ujung lidah bersentuhan dengan langit
lembut.
|
|
|
|
Ny
|
Tengah lidah bersentuhan dengan langit
langit kasar.
|
Daftar pustaka :
Suparlan .2014. Panduan Lengkap EYD . Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Zulkifli, dkk.
2014 . Bahasa Indonesia . Tarakan : Himpunan
Dosen Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
https://Mata%20Kuli-ahh/Smester%20II/IKD/Nurfitri%20Ramdhani%20%20Fakta,%20Hipotesis,%20Teori,%20dan%20Hukum%20ilmiah.htm diakses 02 Maret 2017.