Selasa, 16 Mei 2017

hubungan teori sastra dengan kritik sastra dan sejarah sastra



Nama               : Vani Anggraini
Npm                : 1640605040
Lokal               : A
Mata Kuliah    : Bahasa dan Sastra


Hubungan Teori Sastra Dengan Kritik Sastra Dan Sejarah Sastra

      Teori sastra, kritik sastra dan sejarah sastra saling berkaitan. Ketiga disiplin ilmu sastra tersebut bukanlah disiplin ilmu yang terpisah-pisah melainkan disiplin ilmu yang saling terkait dalam proses pengkajian karya sastra.
1.      TEORI SASTRA DAN KRITIK SASTRA
Teori sastra adalah teori yang mempelajari kaidah-kaidah, hukum, kategori, kriteria yang menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks sastra dan bagaimana teks tersebut berfungsi dalam masyarakat. Aspek-aspek dasar yang terdapat di dalam teks berupa aspek intrinsik dan aspek ekstrinsik. Aspek intrinsik karya sastra meliputi konvensi bahasa sebagai sarana sastra, konvensi budaya, dan konvensi sastra itu sendiri. Sedang aspek ekstrinsik berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi timbulnya karya sastra, seperti unsur budaya, aliran, psikologi, filsafat, agama, dan politik.
Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, memberi penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra Kritikan diberikan untuk memberikan masukan kepada penulisnya tentang kondisi karya yang dihasilkannya dengan harapan akan menjadi menjadi lebih baik lagi.
Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra dari sudut keunggulan atau kelemahan karya sastra kritikus sastra tidak bersifat subjektif. Dia harus bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra. Dia bekerja berdasarkan atas teori sastra yang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya yang ditelitinya. Dalam hal ini teori sastra merupakan sumber rujukan bagi kritikus sastra sehingga kritik sastranya bermakna bagi penulisnya.

2.      TEORI SASTRA DAN SEJARAH SASTRA
Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Teeuw mengemukakan beberapa cara yang dapat dilakukan peneliti sejarah sastra, antara lain: dengan melihat pengaruh timbal balik antar genre sastra. Misalnya, bentuk syair dalam sastra klasik sering ditulis kembali dalam bentuk prosa, dengan melihat pengaruh antarkarya sastra. Misalnya, dalam hasil penelitian sastra ditemukan terjadinya kesamaan tema cerita dengan pengembangan yang berbeda. Novel Belenggu, misalnya memperlihatkan transformasi ide tentang keinginan wanita untuk maju yang telah terungkap dalam novel Layar Terkembang pada waktu sebelumnya.
Dari penjelasan diatas telah diketahui bahwa diperlukan teori sastra untuk menentukan perkembangan sejarah sastra. Demikianlah, dalam perkembangan sejarah sastra akan terjadi interaksi antara teori sastra dengan sejarah sastra.

3.      KRITIK SASTRA DAN SEJARAH SASTRA
kritik sastra, seorang kritikus sastra memberikan pertimbangan kepadapenulisnya dengan menggunakan kaidah-kaidah, hukum, kriteria sastra yang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya sastra.Walaupun kritik sastra bersifat subjektif, tetapi kesubjektifannya berada pada
koridor sistem sastra.
Di sisi lain, perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada masa-masa tertentu.


Sumber :



Jumat, 05 Mei 2017

rangkuman sintaksis



 Nama              : Vani Anggraini
Npm                : 1640605040
Lokal               : A
Mata Kuliah    : Bahasa dan Sastra

SINTAKSIS
Sintaksis merupakan Bagian  atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. (Ramlan). Sedangkan menurut Tarigan sintaksis adalah Salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur kalimat, klausa, dan frase.
A.    Frase
Satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Kelompok kata yang menduduki suatu fungsi (Subjek, predikat, pelengkap, objek, dan keterangan). Berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya, frase dibagi 2 jenis:
1.      Frase Endosentrik
a.       Endosentrik Koordinatif
frase yang unsur-unsurnya setara dalam kalimat dapat dihubungkan dengan kata dan, atau.”
    contoh:
·         rumah pekarangan
·         kakek nenek
·         suami istri

b.      Endosentrik Atributif
“ frase yang unsur-unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau”.
Misalnya:
·         buku baru
·         sedang belajar
·         belum mengajar

c.       Endosentrik Apositif
frase yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau.”
Misal:
·         Amin, anak pak Darto sedang belajar.

2.      Frase Eksosentrik
Frase yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya.”
Misalnya:
·         di pasar
·         ke sekolah

Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata
a.       Frase verbal
Satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan verba(kerja) sebagai intinya dan tidak merupakan klausa (berpotensi menjadi kalimat
Contoh:
·         Kapal laut itu sudah berlabuh.
·         Bapak saya belum pergi.
·         Ibu saya sedang mencuci.
b.      Frase nominal
Satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan nominal atau benda sebagai intinya dan tidak merupakan klausa”.
Contoh:
·         Kakek membeli tiga buah layang-layang.
·         Dodi makan beberapa butir telur.
c.       Frase Adjektiva
Satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan adjektiva atau sifat sebagai intinya dan tidak merupakan klausa”.
Contoh:
·         Ibu bapakku sangat gembira.
·         Baju itu sangat indah.
d.      Frase Pronomina
Satuan bahasa yang terbentuk dari 2 kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang) dan hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat.”
Contoh:
·         Saya sendiri akan pergi ke pasar.
·         Kami sekalian akan berkunjung ke Bali.
e.       Frase Numeralia
dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik  itu intinya pada numeralia”.
contoh:
·         Tiga buah rumah sedang terbakar.
·         Lima ekor ayam sedang terbang.


Tugas
600 Remaja LDII Ikuti Pembekalan Nasionalisme dan Bahaya Narkoba
TARAKAN- Guna menanamkan  nilai-nilai nasionalisme dan bahaya narkoba, Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kota Tarakan  Melaksanakan pembekalan kepada remaja LDII se-kota Tarakan, Minggu (26/3). Pembekalan ini juga sebagai implementasi nilai-nilai relegius dari pancasila. Pencegahan, pemberantasan, penyelahgunaan dan peredaran gelap narkoba kepada reaja LDII merupakan hal penting demi masa depan generasi penerus. Kegiatan yang diikuti sekira 600 pemuda-pemudi LDII Kota Tarakan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Tarakan, Ir Sofian Raga M.Si.
            Kehadiran orang nomor satu Tarakan ini untuk memberikan arahan dan pesan-pesan positif kepada peserta tentang nasionalisme dan bahaya narkoba. Wali Kota Tarakan dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada Ketua DPD LDII Kota Tarakan, H. Bambang Widjanarto beserta pengurus yang telah turut mendukung program kerja Pemerintah Kota Tarakan untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme maupun pencegahan bahaya nakoba kepada masyarakat.
            “Nasionalisme tumbuh dari diri sendiri, rasa itu timbul jika kita merasakan hal yang sama dengan oramg lain atapun masyarakat lainnya sehingga menciptakan hidup rukun, harmonis dan mempererat tali persaudraaan terhadap sesama dan tumbuh rasa cinta tanah air”, ungkapnya. Terkait narkoba, Wali Kota Tarakan mengingatkan kepada remaja LDII bahwa narkoba adalah racun yang  dapat merusak generasi muda, apalagi negara Indonesia sudah mengalami darurat narkoba. Sementara itu, Dosen Hukum Universitas Borneo Tarakan, Dr Muhammad Ilham Agang SH, MH sebagai narasumber menyampaikan tentang wawasan kebangsaan.
            Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNN Kota Tarakan, Muhammad Sutaji S.Pd memberikan materi tentang bahaya narkoba. Dan Dwi Vidia Efiyanto, S.KM memberikan penjelasan tentang pengertian narkoba, dampak narkoba serta cara menjauhi sehingga tidak terjerumus pada penyalahgunaan narkoba. “Pemuda LDII memiliki potensi besar yang harus dijaga, maraknya perearan narkoba mengancam remaja dan harus diantisipasi sejak dini”, ujar Sutaji.
            DPD LDII Kota Tarakan dan BNN Kota Tarakan akan segera menyusun Meorandum Of Understanding (MoU) untuk bekerjasama dalam upaya pencegahan dan pemberdayaan masyarakat dalam mengantisipasi bahaya narkoba di Kota Tarakan.

Frase Verbal
1.      Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) kota Tarakan melaksanakan Pembekalan kepada remaja LDII se-kota Tarakan.

Frase  Nominal
1.      Kegiatan yang diikuti sekira 600 pemuda-pemudi LDII Kota Tarakan
2.      Kehadiran orang nomor satu Tarakan


Frase Adjektif
1.      Mempererat tali persaudaraan terhadap sesama dan tumbuh  rasa cinta tanah air.








DAFTAR PUSTAKA

Radar Tarakan Tanggal 28 Maret 2017
Suparlan  2014. Panduan Lengakp EYD  Yogyakarta : Pustakabarupress

Minggu, 02 April 2017

rangkuman morfologi



RANGKUMAN
“MORFOLOGI”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd

Di susun oleh :
  NAMA     : VANI ANGGRAINI
  NPM         : 1640605040
  LOKAL    : A

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017


A.   Pengertian Morfologi
                    Kata morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani. Morphologie terdiri dari dua kata yaitu, morpheyang berarti bentuk dan logosyang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti cabang ilmu bahasa yang seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata.
Menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu :
a.       Kata dasar, contohnya sepeda
b.      Kata berimbuhan, contoh berepeda
c.       Kata majemuk, contohnya sapu tangan
d.      Kata ulang, contohnya berbondong-bondong

Pembagaian bentuk kata menurut C.A. Mees yang berkebangsaan Belanda terdiri dari:
a.       Kata benda 
b.      Kat
c.       a kerja
d.      Kata sifat
e.       Kata ganti
f.       Kata bilangan
g.      Kata depan
h.      Kata sandang
i.         Kata Sambung
j.        seruKata keterangan

      Perbedaan golongan arti kata – kata tidak lain disebabkan oleh perubahan bentuk kata

B.   Proses Morfologi
                  Proses morfologi ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologi, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan). Disamping tiga proses morfologi tersebut, dalam bahasa Indonesia sebenarnya masih ada satu proses lagi yang disini disebut zero. Proses ini hanya meliputi sejumlah kata tertentu, ialah kata – kata makan, minum, minta, dan mohon, yang semuanya teramsuk golongan kata verbal yang transitif.

C.   Macam – macam Proses Morfologi
1.      Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
      Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikatmerupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Sedangkan kata yangdapat berdiri sendiri disebut sebagai morfem bebas.
    Afiksasi terdiri atas:
         prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-).
         sufiks (–kan, –an, –i),
         infiks (–el-, -em-, -er-),
         konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
         simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
2.      Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
        Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh :      Keras+kepala = keras kepala
                    Kamar+mandi = kamar mandi
                    Mata+pelajaran = mata pelajaran
                    Kumis+kucing = kumis kucing

3.      Pengulangan (Reduplikasi)
        Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
1.      Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek
Contoh : Berkata – kata dari bentuk dasar berkata.
Pada cara ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya stinggi – tingginya ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata keterangan.
2.      Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh : Mepertahan – tahankan
Bentuk dasarnya bukan mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia.
Macam – Macam Pengulangan
1.      Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh 
        bentuk dasar, tanapa perubahan fonem adan tidak
        berkombinasi dengan proses perubahan afiks.,
        misalnya sepeda sepeda – sepeda.
2.      Pengulangan
            sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk  
       dasarnya. misalnya mengambil – ambil.
3.      Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
            Pengulangan yang berkombinasi dengan proses
       pembubuhan afiks yaitu, bentuk dasar diulang
       seluruhnya dan berkombinasi dengan proses
       pembubuhan afiks, maksudnya pengulanag itu terjadi
       bersama – sama dengan proses pembubuhan afiks dan
       bersama – sama pula mendukung satu fungsi.
4.      Misalnya, kereta – keretaan. Pengulangan Dengan Perubahan Fonem Kata
ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit
            Disamping bolak – balik terdapat kata kebalikannya,
        sebaliknya, dibalik, membalik, dari perbandingan itu
        dapat disimpulkan bahwa kata bolak – balik dibentuk 
        dari bentuk dasar balik yang diulang seluruhnya
        dengan perubahan fonem, ialah dari /a/, menjadi /o/,
         dan dari /i/, menjadi /a/.





D.   Pengertian Morfem
                        Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya.morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil sebagai satuan gramatikal, morfem mempunyai makna. Dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata, frase, klausa,kalimat. Dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan
Contoh : 
Dalam bentuk fonologis dalam makna dibandingangkan dengan kata:
a.       Di ambil - ambil
b.      Di bawa - bawa
c.       Di curi - curi
d.      Di dukung - dukung

  1. Jenis-jenis Morfem
                        Berdasarkan criteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139).
  1. Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, masih dapat kita lihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
  1. Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat aditif (tambahan) yang bersifat replasif (penggantian), dan yang bersifat substraktif (pengurangan).
  1. Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya,  morfem pun dapat dibagi menjadi tiga macam yakni ; morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya
  1. Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem ikat. Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri dalam tuturan biasa , atau morfem yang dapat berfungsi sebagai kata,  misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau.
Sementara itu, wakil ketua DPRD Tarakan, Muddain mengatakan, DPRD tidak mempunyai kewenangan dalam tataran teknis, melainkan akan menerapkan kebijakan dan merekomendasikan hasil langsung diterapkan pada RAT 2017. Ke depan, jika sudah dilaksanakannya RAT, maka perlu ada transsparansi keuangan serta hasil pengembangan usaha. “ke depan, koperasi TKBM wajib mendaftarakan seluruh anggota ke BPJS ketenagakerjaan. Pada RAT nanti”, katanya.
Pada paragraf diatas terdapat beberapa morfem terikat dan morfem bebas diantaranya sebagai berikut :
Morfem terikat
  1. Mengatakan
  2. Mempunyai
  3. Melainkan
  4. Menerapkan
  5. Kebijakan
  6. Merekomendasikan
  7. Diterpkan
  8. Dilaksanakannya
  9. Keuangan
  10. Pengembangan
  11. Kedepan
  12. Mendaftarkan
  13. Ketenagakerjaan
  14. Mudahan
  15. Dijalankan
  16. Katanya

Morfem bebas
1.      Itu
2.      Wakil
3.      Ketua
4.      DPRD
5.      Tarakan
6.      Tidak
7.      Dalam
8.      Dan
9.      Pada
10.  Akan
11.  Hasil
12.  Rapat
13.  Jika
14.  Sudah
15.  Ada
16.  Perlu
17.  Nanti
18.  Usaha
19.  Ini
20.  bisa


                    DAFTAR PUSTAKA
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi, Hasan, dkk (peny). 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan (Fanologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI PRESS.
Koran Radar Tarakan 28 Maret 2017