Sabtu, 18 Maret 2017

rangkuman perkembangan sejarah indonesia




RANGKUMAN
“Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd

Di susun oleh :
  NAMA     : VANI ANGGRAINI
  NPM         : 1640605040
  LOKAL    : A

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017

  1. Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
                        Penelusuran perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi (batu tertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bangsa Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasati itu mengungkapkan sesuatu yang menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu. Nama-nama prasasti adalah:
    1. Kedukan Bukit (683 Masehi)
    2. Talang Tuwo (684 Masehi)
    3. Kota Kapur (686 Masehi)
    4. Karang Brahi (686 Masehi)
    5. Gandasuli (832 Masehi)
    6. Bogor (942 Masehi)
    7. Pagaruyung (1356) (Abas, 1987: 24)
Prasasti-prasasti tersebut memuat tulisan Melayu kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu kuno dan bahasa Sanskerta.
       Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.
       Istilah Melayu atau Malayu berasal dari Kerajaan Melayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya  kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan bagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya pemakaian istilah Melayu mmencakup wilayah geografis yang lebih luas dari wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga bumi Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin NagaraKretagama.
  1. Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan Bahasa Melayu Riau
                        Beberapa Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan Bahasa Melayu Riau dapat diungkapkan dibawah ini :
    1. Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda. Peranan ke-lingua franca-an bahasa Melayu semakin nyata dan penting.
    2. Tahun 1901 Charles van Ophuijsen menerbitkan bukunya yang berjudul Kitab logat Melajoe: Wondenlijst voor de Spelling der Maleische Taal yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu mempergunakan huruf latin yang bersifat fonemis. Sebelumnya bahasa Melayu Riau mempergunakan huruf Arab (biasa diistilahkan huruf Jawi) yang bersifat silabik sebagai sistem ejaan. Sistem ejaan van Ophuijsen dengan huruf latin dianggap lebih sesuai dengan bahasa Melayu.
    3. Tahun 1918 bahas Melayu mulai dipergunakan didalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat). Dengan demikian status bahasa Melayu meningkat menjadi bahasa supra-etnik melebihi bahasa-bahasa daerah lainnya
    4. Tahun 1920 bahasa Melayu menjadi bahasa Balai Pustaka. Semua buku hasi penerbitan Balai Pustaka mempergunakan bahasa Melayu. Penyebaran bahasa Melayu ke pelosok Nusantara semakin intensif. Semua sekolah dasar di desa-desa mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pegantar. Di samping itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa para pejuang kemerdekaan Indonesia.
    5. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu dijadikaan oleh para peserta Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan yang tertuang pada butir ketiga Soempah Pemoeda yang diikrarkannya.
    6. Pada tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga Baroe sekelompok pengarang yang menerbitkan berbagai majalah buku.
    7. Pada tahun 1938 Kongres Bahasa Melayu (Indonesia) di Solo. Kongres ini meletakkan dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu lagi.
    8. Tahun 1942-1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu menjadi satu-satunya bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan.
    9. Pada tanggal 17 Agustus 1945 prolamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh dunia dengan mnggunakan bahasa Indonesia. Pasal ... ayat ... UUD 1945 memuat bahwa “Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi negara.” Sejak itu bahasa Indonesia menjadi bahasa Angkatan ’45.
    10. Tahun 1954 Kongres bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan dari Semenanjung Malaya dan Singapura.
    11. Tahun 1972 anatara Republik Indonesia dan Negara Malaysia tercapai persetujuan di bidang kebudayaan. Masalah bahasa termasuk di dalamnya. Terbentuklah Majelis Bahasa Indonesia dan Malaysia (MABIM).
    12. Pada  tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) di Indonesia dan di Malaysia. Kenyataan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai norma supra-nasional.
    13. Pada tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakuan tatacara pembentukan istilah di Indonesia dan Malaysia. Hal ini semakin memperkuat MABIM sehingga Negara Brunai Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di dalam majelis bahasa ini.
    14. Kongres Bahasa Indonesia III dan seterusnya disenggarakan secara teratur setiap lima tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
    15. Kerja sama kebangsaan atara Negara Kesatuan Republik Indonesia, Negara Malaysia, Negara Brunai Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh. Keadaan ini akan mengantar bahasa Melayu menjadi bahasa komunikasi luas di kawasan Asia Tenggara untuk selanjutnya diharapkan menjadi slah satu bahasa dunia di dalam abad ke-21.
C.     Peresmian Nama Bahasa Indonesia
                        Bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, berkembang tumbuh terus. Pada waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga bahasa ini telah menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosakata dan mantap dalam struktur.
Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928 ini berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut.
Pertama  : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia.
Kedua  : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga   : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa
Indonesia.

  1. Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia
1.      Ejaan Van Ophuysen
Ejaan ini digunakan sejak tahun 1901 sampai Maret 1974 di Indonesia. Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf latin, ciri-cirinya huruf “I” untuk membedakan antara huruf I sebagai akhiran dan karenanya harus dengan diftong seperti mulai dengan ramai, juga digunakan untuk huruf “y” soerabaia. Huruf “j” untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang dan sebagainya. Huruf “oe” untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dan sebagainya.Tanda diakritik seperti koma, ain, dan tanda, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, akal’, ta’, pa’ dan sebagainya.
2.      Ejaan Republik
Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini dikenal dengan nama Ejaan Soewandi.
Ciri-ciri:
    1. Huruf “oe” diganti dengan “u” pada kata-kata guru, itu, umur, dan sebagainya.
    2. Bunyi Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan “k” pada bunyi kata-kata tak, pak, rakjat, dan sebagainya. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Awalan di- dalam kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
3.      Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)
     Di kenal pada tahun 1959, karena perkembangan politik selama bertahun-tahun berikutnya diurungkanlah peresmian ejaan ini. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Berdasarkan Putusan Presiden No.57 Tahun 1972.
  1. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
                        Ejaan ini diresmikan  pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan
Perubahan:
Indonesia (pra-1972)
Malaysia (pra-1972)
Sejak 1972
Tj
Ch
C
Dj
J
J
Ch
Kh
Kh
Nj
Ny
Ny
Sj
Sh
Sy
J
Y
Y
Oe*
U
U

  1. Kongres Bahasa Indonesia
1.      Kongres Bahasa Indonesia I
        Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsunngkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendikiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah  Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
Untuk melaksanakan Kongres Bahasa Indonesia I ini disusun Panitia Penyelenggara sebagai berikut :
        Ketua Kehormatan       : Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat
        Ketua                           : Dr. Poerbatjaraka
        Wakil Ketua                 : Mr. Amir Sjarifoeddin
        Penulis                         : Soemanang Armijin  Pane Katja Soengkana
        Bendahara                   : Soegiarti, Mr. Nj. Santoso- Maria Ulfah
  1. Kongres Bahasa Indonesia II
        Tanggal 28 Oktober  s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.Tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 Tahun 1972.Tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan oleh Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia ( Wawasan Nusantara). Untuk melaksanakan Kongres Bahasa Indonesia Kedua ini disusun Panitia Penyelenggara sebagai berikut.
Ketua                                  : Sudarsana
Wakil Ketua                        : Dr. Slametmuljana
Panitera I                 : Mangatas Nasution
Panitera II                : Drs. W.J.B.F. Tooy
Panitera III               : Nur St. Iskandar
Anggota                    : Pudjowijatno
Anggota                    : Amir Hamzah Nasution
Anggota                    : La Side
  1. Kongres Bahasa Indonesia III
        Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres ini diadakan dalam rangka memperngati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
  1. Kongres Bahasa Indonesia IV
        tanggal 21-26 November 1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua wrga negara Indonesia untuk menggunkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal mungkin.
  1. Kongres Bahasa Indonesia V
        Tanggal 28 Oktobe s.d 3 November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Inonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari selururh Indonesia dan perserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan  Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
  1. Kongres Bahasa Indonesia VI
        Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia Vindi Jakarta. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepag, Rusia, Singapura, Korea Selatn, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
7.      Kongres Bahasa Indonesia VII
      Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.

  1. Kongres Bahasa Indonsia VIII
                        Pada bulan Oktober tahun 2003, pra pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia  akan menyelenggarakan kongres Bahasa Indonesia ke-VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga kongres bahasa Indonesia.

  1. Kongres Bahasa Indonesia IX
                        Dalam rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan kongres IX Bahasa Indonesia pada tanggal 28 Oktober -1 November 2008 di Jakarta.
                        Kongres tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa, kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari luar dan dalam negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres tahun ini.
  1. Kongres Bahasa Indonesia X
                        Kongres Bahasa Indonesia yang ke sepuluh dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28 Oktober 2013. Kesimpulan dari kongres bahasa yang ke sepuluh ini ialah mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta paparan enam makalah pleno tunggal, diantaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang tergabung dalam selapan topik diskusi panel, dan diskusi yang berkembang selama persidangan. Ketua Tim Perumus Kongres Bahasa Indonesia X Prof. Dr. Gufron Ali Ibrahim, M.S.



DAFTAR PUSTAKA

Zulkifli, Erna Wahyuni, M. Thobroni. 2012. Bahasa Indonesia Mengembangkan Keterampilan Komunikasi Lisan dan Tulis di Perguruan Tinggi, halaman 1-14. Tarakan : Penerbit Imperium Bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo Tarakan.








2 komentar:

  1. memasukkan semua informasi persis dengan bukunya.

    BalasHapus
  2. kok sama yah? sampai titik, koma, kata kalimatnya juga

    https://sriherdiana16.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html?showComment=1489984638212#c2682824232655325681

    hindari plagiasi!

    BalasHapus