RANGKUMAN
“Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd
Di
susun oleh :
NAMA
: VANI ANGGRAINI
NPM
: 1640605040
LOKAL
: A
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017
- Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia
Penelusuran
perkembangan bahasa Indonesia bisa dimulai dari pengamatan beberapa inskripsi
(batu tertulis) atau prasasti yang merupakan bukti sejarah keberadaan bangsa
Melayu di kepulauan Nusantara. Prasasti-prasati itu mengungkapkan sesuatu yang
menggunakan bahasa Melayu, atau setidak-tidaknya nenek moyang bahasa Melayu.
Nama-nama prasasti adalah:
- Kedukan Bukit (683 Masehi)
- Talang Tuwo (684 Masehi)
- Kota Kapur (686 Masehi)
- Karang Brahi (686 Masehi)
- Gandasuli (832 Masehi)
- Bogor (942 Masehi)
- Pagaruyung (1356) (Abas, 1987: 24)
Prasasti-prasasti tersebut memuat
tulisan Melayu kuno yang bahasanya merupakan campuran antara bahasa Melayu kuno
dan bahasa Sanskerta.
• Bahasa Indonesia adalah varian
bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa
Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan
sejak abad-abad awal penanggalan modern.
• Istilah Melayu atau Malayu
berasal dari Kerajaan Melayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abad ke-7 di
hulu sungai Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula
hanya kepada wilayah kerajaan tersebut
yang merupakan bagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya
pemakaian istilah Melayu mmencakup wilayah geografis yang lebih luas dari
wilayah Kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera
sehingga pulau tersebut disebut juga bumi Melayu seperti disebutkan dalam
Kakawin NagaraKretagama.
- Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan Bahasa Melayu Riau
Beberapa
Peristiwa Penting menyangkut Perkembangan Bahasa Melayu Riau dapat diungkapkan
dibawah ini :
- Tahun 1865 bahasa Melayu Riau diangkat oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai bahasa resmi kedua mendampingi bahasa Belanda. Peranan ke-lingua franca-an bahasa Melayu semakin nyata dan penting.
- Tahun 1901 Charles van Ophuijsen menerbitkan bukunya yang berjudul Kitab logat Melajoe: Wondenlijst voor de Spelling der Maleische Taal yang berisi sistem ejaan bahasa Melayu mempergunakan huruf latin yang bersifat fonemis. Sebelumnya bahasa Melayu Riau mempergunakan huruf Arab (biasa diistilahkan huruf Jawi) yang bersifat silabik sebagai sistem ejaan. Sistem ejaan van Ophuijsen dengan huruf latin dianggap lebih sesuai dengan bahasa Melayu.
- Tahun 1918 bahas Melayu mulai dipergunakan didalam sidang-sidang Volksraad (Dewan Rakyat). Dengan demikian status bahasa Melayu meningkat menjadi bahasa supra-etnik melebihi bahasa-bahasa daerah lainnya
- Tahun 1920 bahasa Melayu menjadi bahasa Balai Pustaka. Semua buku hasi penerbitan Balai Pustaka mempergunakan bahasa Melayu. Penyebaran bahasa Melayu ke pelosok Nusantara semakin intensif. Semua sekolah dasar di desa-desa mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pegantar. Di samping itu, bahasa Melayu juga menjadi bahasa para pejuang kemerdekaan Indonesia.
- Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu dijadikaan oleh para peserta Kongres Pemoeda sebagai bahasa persatuan yang tertuang pada butir ketiga Soempah Pemoeda yang diikrarkannya.
- Pada tahun 1933 bahasa Melayu menjadi bahasa Poedjangga Baroe sekelompok pengarang yang menerbitkan berbagai majalah buku.
- Pada tahun 1938 Kongres Bahasa Melayu (Indonesia) di Solo. Kongres ini meletakkan dasar-dasar tentang pemakaian istilah bahasa Indonesia dan bukan bahasa Melayu lagi.
- Tahun 1942-1945 Kepulauan Nusantara diduduki oleh balatentara Jepang. Bahasa Melayu menjadi satu-satunya bahasa pengantar pada semua jenjang pendidikan.
- Pada tanggal 17 Agustus 1945 prolamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan ke seluruh dunia dengan mnggunakan bahasa Indonesia. Pasal ... ayat ... UUD 1945 memuat bahwa “Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan resmi negara.” Sejak itu bahasa Indonesia menjadi bahasa Angkatan ’45.
- Tahun 1954 Kongres bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini dihadiri pula oleh utusan dari Semenanjung Malaya dan Singapura.
- Tahun 1972 anatara Republik Indonesia dan Negara Malaysia tercapai persetujuan di bidang kebudayaan. Masalah bahasa termasuk di dalamnya. Terbentuklah Majelis Bahasa Indonesia dan Malaysia (MABIM).
- Pada tanggal 16 Agustus 1972 diumumkan pemberlakuan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) di Indonesia dan di Malaysia. Kenyataan ini menjadikan bahasa Melayu sebagai norma supra-nasional.
- Pada tanggal 30 Agustus 1975 diumumkan pula pemberlakuan tatacara pembentukan istilah di Indonesia dan Malaysia. Hal ini semakin memperkuat MABIM sehingga Negara Brunai Darussalam dan Republik Singapura tertarik untuk bergabung di dalam majelis bahasa ini.
- Kongres Bahasa Indonesia III dan seterusnya disenggarakan secara teratur setiap lima tahun. Kongres Bahasa Indonesia VI tahun 1993 menghasilkan berbagai keputusan yang memperkuat kedudukan bahasa Indonesia, baik sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, bahasa negara, bahasa resmi, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
- Kerja sama kebangsaan atara Negara Kesatuan Republik Indonesia, Negara Malaysia, Negara Brunai Darussalam, dan Republik Singapura semakin kokoh. Keadaan ini akan mengantar bahasa Melayu menjadi bahasa komunikasi luas di kawasan Asia Tenggara untuk selanjutnya diharapkan menjadi slah satu bahasa dunia di dalam abad ke-21.
C. Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa
Indonesia dengan perlahan-lahan, tetapi pasti, berkembang tumbuh terus. Pada
waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga
bahasa ini telah menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosakata dan
mantap dalam struktur.
Pada
tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah
Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928 ini berisi tiga butir kebulatan
tekad sebagai berikut.
Pertama :
Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air
Indonesia.
Kedua : Kami
putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga :
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa
Indonesia.
- Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia
1. Ejaan Van Ophuysen
Ejaan ini digunakan sejak tahun
1901 sampai Maret 1974 di Indonesia. Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu
dengan huruf latin, ciri-cirinya huruf “I” untuk membedakan antara huruf I
sebagai akhiran dan karenanya harus dengan diftong seperti mulai dengan ramai,
juga digunakan untuk huruf “y” soerabaia. Huruf “j” untuk menuliskan kata-kata
jang, pajah, sajang dan sebagainya. Huruf “oe” untuk menuliskan kata-kata
goeroe, itoe, oemoer, dan sebagainya.Tanda diakritik seperti koma, ain, dan
tanda, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, akal’, ta’, pa’ dan sebagainya.
2. Ejaan Republik
Ejaan ini diresmikan pada tanggal
19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini dikenal dengan nama
Ejaan Soewandi.
Ciri-ciri:
- Huruf “oe” diganti dengan “u” pada kata-kata guru, itu, umur, dan sebagainya.
- Bunyi Hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan “k” pada bunyi kata-kata tak, pak, rakjat, dan sebagainya. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, seperti kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an. Awalan di- dalam kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.
3. Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)
Di kenal pada tahun 1959, karena
perkembangan politik selama bertahun-tahun berikutnya diurungkanlah peresmian
ejaan ini. Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan diresmikan pada tanggal 17
Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Berdasarkan Putusan Presiden
No.57 Tahun 1972.
- Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan
ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal
16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan
Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun,
yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan
Perubahan:
Indonesia
(pra-1972)
|
Malaysia
(pra-1972)
|
Sejak
1972
|
Tj
|
Ch
|
C
|
Dj
|
J
|
J
|
Ch
|
Kh
|
Kh
|
Nj
|
Ny
|
Ny
|
Sj
|
Sh
|
Sy
|
J
|
Y
|
Y
|
Oe*
|
U
|
U
|
- Kongres Bahasa Indonesia
1.
Kongres
Bahasa Indonesia I
Tanggal 25-28 Juni 1938 dilangsunngkan
Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan
bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara
sadar oleh cendikiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Tanggal 18 Agustus
1945 ditandatanganilah Undang-Undang
Dasar 1945, yang salah satu pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia
sebagai bahasa negara. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan
Republik sebagai pengganti ejaan Van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
Untuk
melaksanakan Kongres Bahasa Indonesia I ini disusun Panitia Penyelenggara
sebagai berikut :
Ketua Kehormatan : Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat
Ketua :
Dr. Poerbatjaraka
Wakil Ketua : Mr. Amir Sjarifoeddin
Penulis :
Soemanang Armijin Pane Katja Soengkana
Bendahara : Soegiarti, Mr. Nj. Santoso- Maria Ulfah
- Kongres Bahasa Indonesia II
Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1954 diselenggarakan Kongres
Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan perwujudan tekad bangsa
Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai
bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.Tanggal 16 Agustus 1972
H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang
DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 Tahun 1972.Tanggal 31
Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Ejaan Bahasa
Indonesia yang disempurnakan oleh Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi
berlaku di seluruh wilayah Indonesia ( Wawasan Nusantara). Untuk melaksanakan
Kongres Bahasa Indonesia Kedua ini disusun Panitia Penyelenggara sebagai
berikut.
Ketua : Sudarsana
Wakil
Ketua : Dr.
Slametmuljana
Panitera
I : Mangatas Nasution
Panitera
II : Drs. W.J.B.F. Tooy
Panitera
III : Nur St. Iskandar
Anggota
: Pudjowijatno
Anggota
: Amir Hamzah Nasution
Anggota
: La Side
- Kongres Bahasa Indonesia III
Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta. Kongres ini diadakan
dalam rangka memperngati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan
kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga
berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.
- Kongres Bahasa Indonesia IV
tanggal 21-26 November 1983
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini
diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam
putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus
lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua wrga negara Indonesia untuk
menggunkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal
mungkin.
- Kongres Bahasa Indonesia V
Tanggal 28 Oktobe s.d 3 November 1988 diselenggarakan
Kongres Bahasa Inonesia V di Jakarta. Kongres ini dihadiri oleh kira-kira tujuh
ratus pakar bahasa Indonesia dari selururh Indonesia dan perserta tamu dari
negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman,
dan Australia. Kongres itu ditandatangani dengan dipersembahkannya karya besar
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia dan
Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
- Kongres Bahasa Indonesia VI
Tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia Vindi Jakarta. Pesertanya sebanyak 770
pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi
Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepag, Rusia,
Singapura, Korea Selatn, dan Amerika Serikat. Kongres mengusulkan agar Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa
Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.
7. Kongres Bahasa Indonesia VII
Tanggal 26-30 Oktober 1998 diselenggarakan
Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta. Kongres itu
mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.
- Kongres Bahasa Indonsia VIII
Pada
bulan Oktober tahun 2003, pra pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan kongres Bahasa
Indonesia ke-VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober
tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa
Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap
bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang
memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga
kongres bahasa Indonesia.
- Kongres Bahasa Indonesia IX
Dalam
rangka peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan
60 tahun berdirinya Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun
Bahasa 2008. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan
kebahasaan dan kesastraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan
kesastraan serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan kongres IX Bahasa
Indonesia pada tanggal 28 Oktober -1 November 2008 di Jakarta.
Kongres
tersebut akan membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah,
penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media
massa, kongres bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para
pembicara dari luar dan dalam negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama
ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar
negeri sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam
kongres tahun ini.
- Kongres Bahasa Indonesia X
Kongres
Bahasa Indonesia yang ke sepuluh dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28
Oktober 2013. Kesimpulan dari kongres bahasa yang ke sepuluh ini ialah mentri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), merekomendasikan hal-hal yang perlu
dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan Kepala Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta paparan enam makalah pleno tunggal,
diantaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang
tergabung dalam selapan topik diskusi panel, dan diskusi yang berkembang selama
persidangan. Ketua Tim Perumus Kongres Bahasa Indonesia X Prof. Dr. Gufron Ali
Ibrahim, M.S.
DAFTAR
PUSTAKA
Zulkifli,
Erna Wahyuni, M. Thobroni. 2012. Bahasa Indonesia Mengembangkan Keterampilan
Komunikasi Lisan dan Tulis di Perguruan Tinggi, halaman 1-14. Tarakan :
Penerbit Imperium Bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra
Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo
Tarakan.
memasukkan semua informasi persis dengan bukunya.
BalasHapuskok sama yah? sampai titik, koma, kata kalimatnya juga
BalasHapushttps://sriherdiana16.blogspot.co.id/2017/03/sejarah-perkembangan-bahasa-indonesia.html?showComment=1489984638212#c2682824232655325681
hindari plagiasi!