Minggu, 26 Februari 2017

hakikat bahasa



RANGKUMAN
“Hakikat Bahasa”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd




Di susun oleh :
  NAMA     : VANI ANGGRAINI
  NPM        : 1640605040
  LOKAL    : A



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
FEBRUARI 2017


Hakikat Bahasa
            Definisi bahasa yaitu sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa merupakan suatu ungkapan yang mengandung maksud untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Sesuatu yang dimaksud oleh pembicara bisa dipahami dan dimengerti oleh pendengar atau lawan bicara melalui bahasa yang diungkapkan.  Berikut merupakan ciri-ciri hakikat bahasa:
1.      Bahasa sebagai sebuah sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan
yang bermakna atau berfungsi, sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional. Bahasa menurut sistematis adalah bahasa yang dapat diuraikan atas satuan-satuan yang berkombinasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalakan. Sedangkan menurut sistemis bahasa itu bukanlah sistem yang tunggal, melainkan beberapa subsistem, yaitu fonologi, gramatika, dan leksikon.

2.      Bahasa berwujud lambang
Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotik, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Lambang adalah hal atau benda yang mewakili sesuatu, atau hal yang menimbulkan reaksi yang sama bila  orang menanggapi apa yang diwakilinya itu. Bahasa mewakili sesuatu, sehingga bahasa itu memiliki makna, artinya bahasa berkaitan dengan segala aspek kehidupan dan alam sekitar

3.      Bahasa berupa bunyi
Menurut Kridalaksana (1983) bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

4.      Bahasa bersifat arbitrer
Kata arbitrer bisa diartikan “sewenang-wenang, berubah, tidak tetap, manasuka”. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa ( yang terwujud bunyi itu)dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam dikotominya membedakan  apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkkan  signifie adalah pertanda konsep yang dikandung signifiant.

5.      Bahasa itu bermakna
Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyai makna. Sesuatu diberi makna di dalam bahasa tertentu karena demikianlah kesepaktan pemakai bahasa itu, dan para pemakai baru tinggal mempelajarinya.

6.      Bahasa bersifat konvensional
Semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu digunakan untuk mewakili konsep yang diwaakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang dapat ditunggangi, dilambangkan dengan bunyi (kuda), sehingga seluruh masyarakat berbahasa indonesia harus mematuhinnya.

7.      Bahasa bersifat unik
Tiap bahasa memiliki ciri khas spesifik yang tidak harus ada dalam bahasa lain, seperti sistem bunyi, pembentukan kata, pembentukan kalimat, dan lain-lain.

8.      Bahasa bersifat universal
Tiap bahasa memiliki sifat-sifat bahasa yang sama seperti yang dimiliki oleh bahasa lain. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi yang tersdiri dari vokal dan konsonan.

9.      Bahasa bersifat produktif
Sebagai sistem dari unsur-unsur yang jumlahnya terbatas, bahasa dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu.

10.  Bahasa bervariasi
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut, maka bahasa yang digunakan menjadi variasi. Bahasa itu dipakai oleh kelompok manusia berdasarkan jenis kelamin, usia, kedudukan, profesi, tingkat sosial, dan lain sebagainya.

11.  Bahasa bersifat dinamis
Bahasa tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk hidup yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterkaitan dan berkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya dalam masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah maka bahasa menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis.

12.  Bahasa itu manusiawi
Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa bersifat produktif dan dinamis maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat dipergunakan oleh manusia



Daftar Pustaka



Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Santoso, Sukrisno. 2009. Resume Buku Linguistik Umum Karya Abdul Chaer. Resume (Online)   diakses pada 10 Februari 2017 di http://sastra33.blogspot.com/2011/06/linguistik-umum-22.html
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar